Bagi sebagian orang berbicara mungkin hal yang mudah, tapi sebagiannya menganggap hal ini juga tak mudah. Berbicara merupakan bagian penting dalam kehidupan kita. Berbicara merupakan bagian dari sara komunikasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk dapat berbicara atau berkomunikasi yang baik agar tidak terjadi salah tanggap atau MissCommunication dalam penyampaiannya.
Di beberapa sekolah mulai dari SD bahkan hingga SMA, berbicara merupakan bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia, dimana ketrampilan berbicara menjadi begitu penting. Tentunya berbicara yang kita bahas disini bukan " asal berbicara"..
Berikut sebagian penjelasan mengenai Ketrampilan Berbicara yang saya ambil dari Buku Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Bahasa Indonesia. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan kita tentang makna dari berbicara, khususnya pagi pendidik dan peserta didik.
Hakikat Berbicara
Guntur Tarigan (1981:15) mengemukakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, mengatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian. jika komunikasi berlangsung secara tatap muka ditambah lagi dengan gerak tangan dan air muka (mimik pembicara).
Sejalan dengan pendapat di atas, Djago Tarigan (1990:149) menyatakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Kaitan antara pesan dan bahasa lisan sebagai media penyampaian sangat berat. Pesan yang diterima oleh pendengar tidaklah dalam wujud asli, tetapi dalam bentuk lain yakni bunyi bahasa. Pendengar kemudian mencoba mengalihkan pesan dalam bentuk bunyi bahasa ilu menjadi bentuk semula.
Arsjad dan Mukti U.S. (1993: 23) mengemukakan pula bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kalimat-kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa berbicara itu lebih daripada sekadar mengucapkan bunyi-bunyi atau kata-kata saja, melainkan suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pendengar atau penyimak.
Tujuan Berbicara
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogyanyalah pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin disampaikan, pembicara harus mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya.
Tujuan umum berbicara menurut Djago Tarigan (1990:149) terdapat lima golongan berikut ini :
a) Menghibur
Berbicara untuk menghibur berarti pembicara menarik perhatian pendengar dengan berbagai cara, seperti humor, spontanitas, menggairahkan, kisah-kisah jenaka, petualangan, dan sebagainya untuk menimbulkan suasana gembira pada pendengarnya.
b) Menginformasikan
Berbicara untuk tujuan menginformasikan, untuk melaporkan, dilaksanakan bila seseorang ingin: a. menjelaskan suatu proses; b. menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasikan sesuatu hal; c. memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan; d. menjelaskan kaitan.
c. Menstimulasi
Berbicara untuk menstimulasi pendengar jauh lebih kompleks dari tujuan berbicara lainnya, sebab berbicara itu harus pintar merayu, mempengaruhi, atau meyakinkan pendengarnya. Ini dapat tercapai jika pembicara benar-benar mengetahui kemauan, minat, inspirasi, kebutuhan, dan cita-cita pendengarnya.
d) Menggerakkan
Dalam berbicara untuk menggerakkan diperlukan pembicara yang berwibawa, panutan atau tokoh idola masyarakat. Melalui kepintarannya dalam berbicara, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambah penguasaannya terhadap ilmu jiwa massa, pembicara dapat menggerakkan pendengarnya.
JENIS-JENIS BERBICARA
Secara garis besar jenis-jenis berbicara dibagi dalam dua jenis, yaitu berbicara di muka umum dan berbicara pada konferensi. Guntur Tarigan (1981: 22-23) memasukkan beberapa kegiatan berbicara ke dalam kategori tersebut.
1)Berbicara di Muka Umum
Jenis pembicaraan meliputi hal-hal berikut.
a. Berbicara dalam situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan, bersifat informatif (informative speaking).
b. Berbicara dalam situasi yang bersifat membujuk, mengajak, atau meyakinkan (persuasive speaking).
c. Berbicara dalam situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberate speaking)
2)Diskusi Kelompok
Berbicara dalam kelompok mencakup kegiatan berikut ini.
a.Kelompok resmi (formal)
b.Kelompok tidak resmi (informal)
3) Prosedur Parlementer
4) Debat
Berdasarkan bentuk, maksud, dan metodenya maka debat dapat diklasifikan. tipe-tipe berikut ini.
a. Debat parlementer atau majelis
b. Debat pemeriksaan ulangan
c. Debat formal, konvensional atau debat pendidikan
Pembagian di atas sudah jelas bahwa berbicara mempunyai ruang lingkup pendengar yang berbeda-beda. Berbicara pada masyarakat luas, berarti ruang Iingkupnya juga lebih luas. Sedangkan pada konferensi ruang lingkupnya terbatas.
Pembelajaran Berbicara
Pembelajaran berbicara perlu ditingkatkan, karena pada kenyataannya masih banyak siswa yang sulit berbicara ketika didaulat beribicara ke depan kelas. Banyak yang masih malu-malu atau tersendat-sendat serta berkeringat dingin bila disuruh berbicara ke depan kelas.
Apabila keadaannya seperti di atas, maka guru harus berupaya keras untuk memberikan kesempatan kepada siswa berbicara secara bergiliran dalam setiap proses pembelajaran. Agar siswa terampil berbicara, guru harus memandu siswa dan mengetahui metode pembelajaran yang tepat. Jika metode dikaitkan dengan pengalaman belajar, maka maka metode berfungsi sebagai sarana mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang menjadi kenyataan dalam pembelajaran pokok bahasan tertentu. Guru harus menciptakan berbagai pengalaman belajar berbicara agar siswa dapat berlatih berbicara. Berbicara sebagai sebuah keterampilan memerlukan banyak latihan.
Metode pembelajaran berbicara yang baik harus memenuhi berbagai kriteria. Kriteria itu berkaitan dengan tujuan, bahan, pembinaan keterampilan proses, dan pengalaman belajar. Kriteria yang harus dipenuhi oleh metode pembelajaran berbicara, antara lain:
a) Relevan dengan tujuan,
b) Memudahkan siswa memahami materi pembelajaran,
c) Mengembangkan butir-butir keterampilan proses,
d) Dapat mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang,
e) Merangsang siswa untuk belajar,
f) Mengembangkan penarnpilan siswa,
g) Mengembangkan keterampilan siswa,
h) Tidak menuntut peralatan yang rumit,
i) Mudah dilaksanakan, dan menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
adapun syarat minimal yang harus dipenuhi guru berbicara adalah:
a) Penguasaan materi,
b) Cara mengajarkan berbicara,
c) Mempunyai pengalaman dengan berbagai ragam metode atau teknik pembelajaran,
d) Mahir berbicara.
Berikut ini contoh metode berbicara yang dikemukakan oleh Djago Tarigan (1990) :
1. Menjawab Pertanyaan
Siswa yang susah atau malu berbicara, dapat dipancing untuk berbicara menjawab pertanyaan mengenai dirinya, misalnya mengenai nama, usia, tempat pekerjaaan orang tua, dan sebagainya.
Guru : Apa pekerjaan orang tuamu?
Siswa : Berjualan makanan.
Guru : Makanan apa?
Siswa : Lauk pauk sebagi teman nasi ketika makan ... dst.
2. Bertanya
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya merupakan salah satu cara agar siswa berlatih berbicara. Melalui pertanyaan siswa dapat menyatakan keingintahu terhadap sesuatu hal. Tingkat atau jenjang pertanyaan yang diutarakan melambangkan tingkat kedewasaan siswa. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang sistematis siswa menemukan sesuatu yang diinginkannya.
Contoh: Guru menyimpan sebuah benda tertutup. Siswa diminta untuk menebak benda dengan mengajukan pertanyaan. Pada pertanyaan ke-10 siswa harus sudah menebak atau mengetahui bendanya.
Siswa : Apakah benda hidup?
Guru : Bukan
Siswa : Apakah bisa dimakan?
Guru :Ya .... dst
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer